RSS

Manusia dan Pendidikan

01 Okt

A. Manusia dan Pendidikan

Manusia adalah sesuatu yang ada, yang adanya tidak sama dengan adanya makhluk-makhluk lain atau benda-benda lain. Masalah pendidikan adalah masalah yang tidak timbul pada masa sekarang saja melainkan adanya pendidikan bersamaan dengan adanya manusia.

Pendidikan pada dasarnya memberi kesempatan kepada manusia untuk berkembang kearah kesempurnaan serta mencegah kemungkinan-kemungkinan terjadinya perubahan yang mengarah ke kejelekan.

Menurut faham filsafat Existensialisme, manusia itu adalah sesuatu yang ada yang penuh potensi untuk berkembang terus, merealisasikan diri, menyempurnaka ujud adanya sebagai manusia. Dalam mencapai kesempurnaan di pengaruhi oleh daya-daya yang datang dari luar di antaranya ada yang sengaja,ada yang tidak sengaja,ada yang menguntungkan dan ada yang merugikan.

Pendidikan merupakan daya dari luar yang di sengaja dan menguntungkan. Pendidikan juga penting buat perkembangan manusia. Perlu dijelaskan bahwa pendidikan itu hanya di peruntukan khusus buat manusia jadi manusialah yang memerlukan pendidikan sedangkan selain manusia tidak memerlukan pendidikan.

Pendidikan bagi manusia dapat diartikan sebagai keseluruhan proses pendidikan yang diorganisasikan, mengenai apapun bentuk isi, tingkatan status dan metoda apa yang digunakan dalam proses pendidikan tersebut, baik formal maupun non-formal, baik dalam rangka kelanjutan pendidikan di sekolah maupun sebagai pengganti pendidikan di sekolah, di tempat kursus, pelatihan kerja maupun di perguruan tinggi, yang membuat manusia mampu mengembangkan kemampuan, keterampilan, memperkaya khasanah pengetahuan, meningkatkan kualifikasi keteknisannya atau keprofesionalannya dalam upaya mewujudkan kemampuan ganda yakni di suatu sisi mampu mengembangankan pribadi secara utuh dan dapat mewujudkan keikutsertaannya dalam perkembangan sosial budaya, ekonomi, dan teknologi secara bebas, seimbang, dan berkesinambungan.

Manusia dalam kehidupannya menjadi sebagai kepribadian yang utuh dan dalam pendidikan ini akan didapatkan pembelajaran bagaimana cara membentuk manusia seutuhnya, tentunya melalui pendidikan. Dalam pengembangan daya cipta rasa, manusia.

Dapat disimpulkan adalah manusia yang dapat hidup dan berintegrasi dengan manusia dan adanya kerja sama dengan orang lain dan adanya kerja sama yang selaras, serasi dan seimbang dalam dunia pendidikan secara garis besar mengajarkan secara teoritis dan mengaplikasikannya bisa diterapkan dalam dunia luar yaitu masyarakat. Akan tetapi di sekolah pengaplikasiannya hanya berhadapan dengan sesama teman dan untuk melangkah lagi dalam menghormati seseorang yang mempunyai jabatan yaitu dengan seorang guru.

B. Dressur dan Pendidikan

Dressur adalah tindakan yang mirip pada suatu binatang yang tindakan tersebut merupakan tindakan pendidikan. Misalkan pada pertunjukan sirkus terdapat perilaku-perilaku dari binatang yang seolah-olah merupakan hasil pendidik,tapi sebetulnya itu hanyalah instink yang di biasakan yang di berikan manusia. Hal ini mengingat bahwa hewan tidak memiliki potensi yang berupa fikiran yang dapat di kembangkan.

Pendidikan juga mempergunakan kecenderungan-kecenderungan yang timbul pada masa perkembangan psikis,pendidik mengarahkan nafsu-nafsu bawaan ke tujuan yang berguna, ia menentukan bentuk-bentuk tindakan instinktif yang boleh di lakukan.Ia turut bekerja dengan perkembangan psikis, tidak hanya mendorong dan menjaga, tetapi lebih-lebih dengan menuntun dan memberi bentuk pada perkembangan tadi.

Dalam situasi pendidikan yang sesungguhnya, pendidikan selalu beranggapan bahwa pada manusia muda setidak-tidaknya ada benih-benih pemikiran dengan budi dan penentuan sendiri tentang baik buruknya tindakannya.

Dressur tidak bisa di samakan dengan pendidikan, dengan kata lain pendidikan pada manusia berlainan dengan pendidikan yang di lakukan oleh binatang. Dengan adanya budi dan pikiran itu, manusia dapat menimbang-nimbang, memilih mana yang akan di lakukannya. Ia lebih bebas dalam melakukannya, tetapi pertanggungjawabannya lebih besar pula. Sedangkan pada binatang tidak demikian, perbuatan binatang terikat oleh alam, oleh instinknya, dan tidak mengenal tanggungjawab.

Manusia juga merupakan anggota persekutuan atau masyarakat. Dari kenyataan kita mengakui bahwa perseketuan itu bermacam-macam , baik corak ragamnya maupun tinggi rendahnya. Karena kompleksnya persekutuan itu, maka pendidikan pada manusia lebih sukar dan makan waktu yang lebih lama.

C. Hakekat Manusia

Menurut Prof.Noto Nagoro bahwa manusia adalah monodualisme. Di katakanan makhluk monodualisme, karena manusia terdiri dari : Raga dan Jiwa, Individu dan Sosial, Pribadi dan Makhluk Tuhan.

1. Manusia sebagai makhluk yang memiliki Raga dan Jiwa.

Manusia mempunyai unsur raga dan jiwa yang merupakan kesatuan, sehingga apabila raga sudah terpisah dengan jiwa maka sudah bukan manusia lagi tapi mayat. Dengan raga ini maka manusia memilki sifat-sifat yang di miliki oleh hewan, tumbuh-tumbuhan dan benda.

Persamaan manusia dengan hewan misalnya rasa sakit, lapar, haus, takut, dan berkembangbiak. Persamaan manusia dengan tumbuhan yaitu sama-sama berkembang(membesar dan memanjang)serta berkembangbiak dan akhirnya mati. Persamaaan manusia dengan benda yaitu manusia akhirnya dapat hancur/rusak seperti benda. Adapun perbedaan antara manusia dengan yang lain karena manusia memiliki jiwa yang terdiri dari unsur-unsur cipta, rasa, dan karsa.

Cipta adalah unsur kejiwaan manusia yang dapat membedakan mana yang benar dan salah. Rasa adalah unsure kejiwaan manusia yang dapat membedakan antara yang indah dan tidak indah, susah dan senang, enak dan tidak enak dan sebagainya. Karsa adalah unsure kejiwaan manusia yang dapat membedakan mana yang baik dan buruk.

2. Manusia sebagai makhluk Individu dan Sosial

Manusia sebagai makhluk individu dan social artinya bahwa manusia tidak pernah hidup sendiri-sendiri, melainkan juga berkelompok. Sebagai makhluk individu dan social hendaknya manusia harus saling menghargai dan menghormati.

Sebagai makhluk individu, tingkah laku manusia selalu di warnai oleh kemampuan-kemampuan dasar yang ada padanya, sehingga terdapatlah perbedaan antara individu yang satu dengan individu yang lain.

Sedangkan manusia sebagai makhluk sosial artinya bahwa manusia tidak dapat hidup seorang diri namun pasti akan selalu berhubungan dengan orang lain. Dalam kehidupannya manusia saling membutuhkan antara satu dengan yang lain, tolong menolong dan bekerja sama.

3. Manusia sebagai makhluk pribadi dan makhluk Tuhan

Manusia sebagai makhluk pribadi dan makhluk Tuhan mengandung arti bahwa manusia memiliki kemampuan-kemampuan yang dapat berkembang untuk selanjutnya dapat merencanakan sesuatu, membudayakan alam semesta/mengolah alam lingkungan untuk kepentingan manusia.

Namun perlu di sadari bahwa semua itu tidak akan berhasil dari kekuatan manusia itu sendiri akan tetapi juga dari kekuatan Tuhan.

D. Konsekuensi Pendidikan Terhadap Manusia

1. Manusia sebagai Makhluk Raga dan Jiwa

Atas dasar tinjauan manusia sebagai makhluk monodualisme, maka pendidikan akan menyelaraskan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan baik yang menyangkut kebutuhan-kebutuhan jasmaniah maupun kebutuhan rohaniah dipenuhi secara selaras dan seimbang.

Selaras dan seimbang dalam arti kebutuhan-kebutuhan jasmaniah/rohaniah dipenuhi dengan pertimbangan-pertimbangan benar dan salah, indah dan tidak indah, baik dan buruk.

2. Manusia sebagai makhluk individu dan sosial

Sebagai makhluk individu dan sosial manusia hendaknya saling menghargai dan menghormati, saling memenuhi kebutuhannya.

Pendidikan akan memberikan petunjuk/pengarahan agar di dalam hidup manusia perlu di penuhi kebutuhan individunya tanpa mengabaikan kebutuhan orang lain.

Di samping itu di dalam hubungannya dengan orang lain (kelompok) individu adalah punya hak dan tanggung jawab yang harus di akui oleh kelompoknya demikian juga kelompok yang punya hak dan tanggung jawab yang harus di akui oleh individu.

3. Di tinjau dari monodualisme pribadi berdiri sendiri dan makhluk ciptaan Tuhan.

Pendidikan akan menyadarkan kepada manusia bahwa apa-apa yang di rencanakan ataupun yang di cita-citakan tidak sepenuhnya berkat usaha manusia itu sendiri tetapi Tuhan ikut menentukannya.

Dengan demikian pada pendidikan akan mendorong manusia dalam berusaha untuk mencapai sesuatu yang di sertai dengan permohonan kepada Tuhan.

E. Pengembangan Dimensi Hakekat Manusia

Dimensi-dimensi hakikat manusia yang secara singkat terdiri dari tujuh macam. Dimensi-dimensi tersebut merupakan potensi yang harus di kembangkan secara utuh dan tidak utuh.

Secara filosofis hakikat manusia merupakan kesatuan integral dari potensi-potensi esensial yang ada pada diri manusia, yakni: (1) Manusia sebagai mahluk pribadi/individu, (2) Manusia sebagai mahluk sosial ,(3) manusia sebagai mahluk susila/moral, (4) Pengembangan manusia sebagai mahluk religius .

Keempat hakekat manusia tersebut diatas dapat dijabarkan sebagai berikut :

1. Manusia sebagai mahluk individu (individual being)

Kesadaran manusia akan diri sendiri merupakan perwujudan individu kualitas manusia. Kesadaran diri sendiri yang dimulai dengan kesadaran pribadi diantara segala kesadaran terhadap segala sesuatu. Dengan bahasa filsafat dinyatakan eksistensi ini mencakup pengertian yang amat luas, terutama meliputi kesadaran adanya diri diantara semua realita, self-respect, self-narcisme, egoisme, martabat kepribadian, perbedaan dan persamaan dengan pribadi lain, khususnya kesadaran akan potensi-potensi pribadi yang menjadi dasar bagi self-realization.

Manusia sebagai individu, sebagai pribadi adalah suatu kenyataan yang paling riel dalam kesadaran manusia. Malahan ada kecenderungan bahwa manusia menganggap pusat orientasi, melalui introspeksi (istilah dalam ilmu jiwa) adalah dirinya sendiri seagai subjek. Orientasi berfikir demikian malahan diakui oleh filsafat existensialisme dan anthroppsentrisme secara tak langsung.

Makin manusia sadar akan dirinya sendiri sesungguhnya manusia makin sadar akan kesemestaan, karena posisi manusia adalah bagian yang tak terpisahkan dari semesta. Antar hubungan dan interaksi pribadi itulah pula yang melahirkan konsekuensi-konsekuensi seperti hak azasi dan kewajiban, norma-norma moral, nilai-nilai social, bahkan juga nilai-nilai supernatural berfungsi untuk manusia.

Dengan demikian kesadaran manusia sebagai pribadi merupakan kesadaran yang paling dalam , sumber kesadaran subjek yang melahirkan kesadaran yang lain.

Manusia sebagai mahluk individu , dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan manusia sebagai mahluk pribadi. Dalam bahasa Inggris kedua istilah itu dibedakan, yakni dengan individuality dan personality.

Makna individulitas menurut Allport, menunjukkan wujud berdiri sendiri dan sifat otonom, serta sifat unik (uniquessnes) tiap pribadi (personality). Dan makna personality ialah what a man reality is dan bagaimana manusia itu dalam antar hubungan dan antaraksi dengan lingkungannya. Personality juga berarti keseluruhan sifat dan keseluruhan fase perkembangan manusia.

Yang dimaksud oleh kesimpulan pertama antropologia metafisika manusia untuk manusia sebagai mahluk individu, dapat kita tafsirkan sebagai meliputi kedua makna tersebut. Manusia sebagai self existence dan self consciousness menyadari dirinya sebagai realself, sebagaimana adanya: bahkan juga sebagaimana idelnya (keinginan dan cita citanya) yang mendorong perkembangan manusia.

Manusia sebagai individu memiliki hak azasi sebagai kodrat alami atau sebagai anugerah Tuhan kepadanya. Hak asasi sebagai pribadi itu terutama hak hidup, hak kemerdekaan dan hak milik. Dan karena manusia menyadari adanya hak asasi itu pulalah manusia menyadari bahwa konsekunsi dari hal-hal tersebut manusia mengemb¬angkan kewajiban dan tangung jawab sosial dan tanggung jawab moral.

Dalam hubungan inilah hal status individualisme manusia menduduki fungsi primer.Tetapi hal tersebut tidaklah tanpa konsekuensi logis yang bersifat wajar dan alamiah pula. Tiap-tiap hal melahirkan kewajiban. Dalam mengemban kewajiban ini, maka status manusia sebagai mahluk social adalah primer, utama. Sebab tanpa penunaian kewajiban, martabat manusia menjadi merosot sebagai manusia. Oleh karena itu integritas manusia sebagai mahluk social.

2. Manusia sebagai mahluk sosial

Self existence, kesadaran diri sendiri membuka kesadaran atas segala sesuatu sebagai realita di samping realita subjek, meskipun diri kita secara pribadi adalah subjek yang menyadari namun diri kita bukanlah pusat dari segala realita.

Sebab kedudukan pribadi mempunyai martabat kemanusian (human dignity) yang sederajat maka wajarlah bahwa kita menghormati setiap pribadi. Untuk dihormati sebagai pribadi adalah hak kita dan setiap orang. Sebaliknya untuk menghormati setiap pribadi adalah kewajiban kita dan setiap pribadi lain

Perwujudan manusia sebagai mahluk sosial terutama tampak dalam kenyataan bahwa tak pernah ada manusia yang mampu hidup (lahir dan proses dibesarkan) tanpa bantuan orang lain. Orang lain dimaksud paling sedikit adalah orangtuanya, keluarganya sendiri. Realita ini menunjukkan bahwa manusia hidup pada kondisi interdependensi dalam antar hubungan dan antaraksi.

Di dalam kehidupan manusia selanjutnya, ia selalu hidup sebagai warga suatu kesatuan hidup, warga masyarakat, warga negara. Warga suatu kelompok kebudayaan. Warga suatu aliran kepercayaan warga suatu ideologi politik dan sebagainya.

Manusia sebagai mahluk sosial di samping berarti bahwa manusia hidup bersama (germinschafts, kebersamaan), maka sifat independensi dalam arti material ekonomis demi kebutuhan kebutuhan biologis jasmaniah melainkan lebih lebih mengandung makna psikologis . yakni dorongan dorongan cinta dimana kebahagiaan terutama tercetak dalam kepuasan rohani.

Hidup dalam antar Hubungan antaraksi dan interdependensi itu mengandung pula konsekuensi konsekuensi social baik dalam arti positif maupun negatif. Ideal dalam hidup bersama itu ialah keadaan harmonis, rukun dan sejahtera. Tetapi dapat pula sebagai hubungan dan antaraksi itu dapat terjadi dalam kehidupan sosial. Keadaan positif dan negatif ini adalah perwujudan dan nilai-nilai dan sekaligus watak individualitas manusia akibat pergeseran pergeseran yang tajam dan bahkan mungkin pertentangan-pertentangan yang terjadi di dalam proses antar hubungan dan antaraksi sosial karena sifat sifat individualitas manusia. Mengenai hal ini secara mendalam oleh tiap tiap pribadi dapat meng¬hindarkan disharmoni itu. Tiap individu harus rela mengorbankan sebagi¬an dari hak individualitasnya demi kepentingan bersama. Kesadaran demikian adalah prasyarat bagi hidup bersama.

Kehidupan di dalam antar hubungan dan antaraksi sosial memang tidak usah kehilangan identitasnya. Sebab kehidupan sosial adalah realita sama rielnya dengan kehidupan individu itu sendiri.

Urgensi kedua duanya harus dimengerti dalam proporsi masing-masing Kehidupan social yang besar, banyak warganya meliputi semua individu dengan berbagai latar belakang status, minat, nilai nilai dan sebagainya. Kehidupan sosial adalah realita dimana individu tiada menonjolkan identitasnya, melainkan sebaliknya kebersamaan ialah identitas, dengan sifat pluralistis. Dalam hidup bersama apakah itu lembaga lembaga masyarakat ataupun negara, maka identitas kebersamaan itu mengatasi identitas individu.

Akan tetapi meskipun demikian tidaklah berarti individu sudah lenyap, lebur di dalam identitas sosial itu. Realita sosial kebersamaan itu tidak hanya terbentuk oleh individu-individu. Bahkan integritas social itu akan goyah bilamana hak hak individu diperkosa. Individualitas manusia bukanlah bertentangan dengan wujud sosialitas manusia.

Melainkan individualitas itu dalam perkembangan selanjutnya akan mencapai kesadaran sosialitasnya. Tiap manusia sadar akan kebutuhan hidup bersama segera setelah masa kanak-kanak yang egosentris berakhir.

Sebaliknya, kesadaran manusia sebagai mahluk sosial justru harus memberi rasa tanggung jawab untuk mengayomi individu yang lebih “lemah” daripada wujud sosial yang “besar” dan “kuat”. Kehidupan sosial kebersamaan baik itu bentuk-bentuk non-formal (masyarakat) maupun dalam bentuk bentuk formal (institusi/negara) dengan wibawanya wajib mengayomi individu.

Asas sosial dalam kodrat manusia, seperti juga asas individualitas adalah potensi potensi, yang baru menjadi realita karena kondisi kondisi tertentu. Ini berarti bahwa pelaksanaan kesadaran sosial manusia hanya oleh kondisi itu sendiri. Artinya, jika di dalam. hidup kebersamaan (sosial) itu individu kehilangan individualitasnya (hak-¬hak asasi), maka potensi kesadaran sosial manusia menjadi tidak maksimal. Dan jika ada pelaksanaannya tidak wajar, melainkan karena otoritas, paksaan dari luar. Bukan didorong oleh hasrat dan motif pengabdian yang alturis. Individualitas manusia dengan potensi-potensi subjek (prakarsa, rasa, karsa, cipta, karya) takkan berkembang jika otoritas sosial justru tidak bersifat menunjang realisasi itu.

Esensial manusia sebagai mahluk sosial ialah adanya kesadaran manusia tentang siapa dan posisi dirinya dalam kehidupan bersama dan bagaimana tanggungjawab dan kewajibannya di dalam kebersamaan itu. Adanya kesadaraan interpedensi dan saling membutuhkan serta dorongan dorongan untuk mengabdi sesamanya adalah asas sosialitas itu

3. Manusia sebagai mahluk susila (moral being)

Pribadi manusia yang bidup bersama itu melakukan hubungan dan antaraksi baik langsung maupun tidak langsung . Di dalam proses antar hubungan dan antaraksi itu tiap pribadi membawa identitas, kepribadian masing masing. Oleh karena itu keadaan yang cukup heterogen akan terjadi sebagai konsekuensi tindakan tindakan masing masing pribadi.

Keadaan interpredensi kebutuhan manusia lahir batin yang tiada batasnya akan berlangsung terus-menerus secara kontinyu. Dan keterti¬ban, kesejahteraan manusia, maka di dalam masyarakat ada nilai-nilai, norma-norma.

Asas pandangan bahwa manusia sebagai mahluk susila bersumber pada kepercayaan bahwa budi nurani manusia secara a priori adalah sadar nilai dan mengabdi norma-norma. Pendirian ini sesuai pula bila kita lihat pada analisis ilmu jiwa dalam tentang struktur jiwa (das Ich dan das Uber Ich). Struktur jiwa yang disebut das Uber Ich yang sadar nilai nilai esensia manusia sebagai mahluk susila.

Kesadaran susila (sense of morality) tak dapat dipisahkan realitas sosial sebab justru adanya nilai-nilai, efektifitas nilai-nilai, berfungsinya nilai-nilai hanyalah dalam kehidupan social. tiap-tiap hubungan sosial mengandung moral. Atau dengan kata kata “Tiada hubungan social tanpa hubungan susila, dan tiada hubungan susila tanpa hubungan social”. Hubungan sosial harus dimaknai dalam makna luas dan hakiki. Yakni hubungan social horizontal ialah hubungan sesama antar manusia. Dan hubungan social-vertical yaitu hubungan pribadi dengan Tuhan. Hubungan sosial vertikal bersifat transcendental sering disebut hubungan rokhaniah pribadi. Akan tetapi kedua antar hubungan social tersebut sama sama riel di dalam kehidupan manusia, keduanya pasti dialami semua manusia. Hubungan sosial sering disebut hubungan religius yang dianggap hubungan pribadi dan bersifat perseorangan bukan masalah sosial.

Hubungan sosial horisontal ialah hubungan sosial dalam arti biasa, maksimal ialah pada taraf etis atau kesusilaan (etika, nilai-nilai filsafat, adat-istiadat., hukum). Tetapi yang jelas semua nilai-nilai itu, atau prinsip pembinaan kesadaran asas normative itu menjadi kewajiban utama pendidikan. Asas kesadaran nilai, asas moralitas adalah dasar fundamental yang membedakan hidup manusia dari hidup mahluk-mahluk alamiah yang lain. Rasio dan budi nurani menjadi dasar adanya kesadaran moral itu. Dan bila moralitas ditafsirkan meliputi nilai-nilai religius, maka rasio budi nurani akan dilengkapi pula dengan kesadaran-kesadaran supernatural yang super rasional.

Ketiga esensia tersebut di atas dikatakan sebagai satu kesatuan integritas adalah kodrat hakekat manusia secara potensial artinya oleh kondisi-kondisi lingkungan hidup manusia potensi-potensi tersebut dapat berkembang menjadi realita (aktualisasi) atau sebaliknya tidak terlaksana. Inilah sebabnya ada criteria di dalam masyrakat antara pribadi yang baik, yang ideal, dengan pribadi yang di anggap buruk atau asusila, tingkah laku yang kurang dikehendaki. (Noor Syam, 1984 : 169-196)

4. Pengembangan manusia sebagai mahluk religius

Eksistensi menusia manusia yang keempat adalah keberadaanya dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Kuasa.sebagai anggota masyarakat dan bangsa yang memiliki filsafat Pancasila kita dituntut untuk menghayati dan mengamalkan ajaran pancasila sebaik-baiknya. Sebagai anggota masyarakat yang dituntut untuk menghayati dan mengamalkan ajaran Pancasila, maka kepada masing-masing warga Negara dengan demikian juga dituntut untuk dapat melaksanakan hubungan dengan Tuhan sebaik-baiknya menurut keyakinan yang dianutnya masing-masing, serta untuk melaksanakan hubungan sebaik-baiknya dengan sesama manusia.

Sasaran pendidikan adalah manusia sehingga dengan sendirinya pengembangan dimensi hakikat manusia menjadi tugas pendidikan.

Manusia lahir telah dikarunia dimensi hakikat manusia tetapi masih dalam wujud potensi. Belum terktualisasi menjadi wujud kenyataan atau ‘aktualisasi’, dari kondisi ‘potensi’, menjadi wujud aktualisasi terdapat rentangan proses yang mengundang pendidikan untuk berperan dalam memberikan jasanya. Setiap manusia lahir dikaruniai ‘naluri’ , yaitu dorongan – dorongan alami (dorongan makan, sexs, mempertahankan diri dan lain – lain). Jika seandainya manusia dapat hidup dengan naluri maka tidak berdaya ia dengan hewan. Hanya melalui pendidikan status hewani itu dapat diubah menjadi kearah yang status manusiawi. Meskipun pendidikan itu pada dasarnya baik tetapi dalam pelaksanaanya mungkin bisa saja terjadi kesalahan – kesalahan yang lazimnya di sebut salah pendidik itu adalah manusia biasa. Sehubungan dengan itu ada dua kemungkinan yang bisa terjadi yaitu :

a. Pengembangan yang utuh

Tingkat keutuhan perkembagan dimensi hakikat manusia ditentukan oleh dua factor, yaitu kualitas dimensi hakikat manusia itu sendiri secara potensial dan kualitas yang disediakan untuk memberikan pelayanan atas perkembanganya. Pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang sanggup menghangtar subjek didik menjadi dirinya selaku anggota masyarakat.

Selanjutnya pengembangan yang telah dapat dilihat dari berbagai segi yaitu :

1) Dari wujud dimensinya

Keutuhan terjadi antara aspek jasmani dan rohani, antara dimensi keindividuan, kesosialan, kesusilaan dan keberagaman antara aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Pengembangan aspek jasmani dan rohaniah dikatakan utuh jika keduanya mendapat pelayanan secara seimbang. Kualitas perkembangan aspek rohaniah seperti, pandai, berwawasan luas, berpendirian teguh, bertenggang rasa, dinamis, kreatif terlalu memandang bagaimana kondisi fisiknya.

Pengembangan keindividuan, kesosialan, kesusilaan, dan keragaman. Dikatakan utuh jika semua dimensi mendapat pelayanan dengan baik. Dalam hal ini pengembangan dimensi keragaman menjadi tumpuan dari ketiga dimensi yang disebut terdahulu.

Pengembangan domain kognitif, efektif dan psikomotorik dikatakan utuh jika ketiga – tiganya mendapat pelayanan yang berimbang. Pengutamaan domain kognitif dengan mengabaikan domain efektif misalnya yang terjadi pada system persekolahaan dewasa ini hanya akan menciptakan orang – orang pintar yang tidak berwatak.

2) Dari arah pegembangan

Keutuhan pengembangan dimensi hakikat manusia dapat dirahkan kepada pengembagan dimensi keindividuan, kesosialan, kesusilaan dan keragaman secara terpadu. Jika dianalisa satu persatu gambaranya sebagai berikut : pengembangan yang sehat terhdap dimensi keindividuan memberi peluang pada seorang untuk menjadikan eskplorasi terhadap potensi – potensi yang ada pada dirinya, baik kelebihanya maupun kekuranganya. segi positif yang ada ditingkatan dan negative dihambat. Pengembangan yang berarah konsentis ini bermakna memperbaiki diri atau meningkatkan martabat atau yang sekaligus juga membuka jalan kearah bertemunya sesuatu pribadi dengan pribadi yang lain secara selaras dengan tanpa mengganggu otonomi masing – masing.

Pengembangan yang sehat terhadap dimensi kesosialan yang lazim disebut pengembangan horizontal membuka peluang terhadap ditingkatkanya hubungan fisik yang berarti memelihar kelestarian lingkungan disamping mengekplorasinya

Pengembangan domain kognitif, efektif dan psikomotorik disamping keselarasan (perimbangan antara keduanya), juga perlu diperhatikan arahnya. Yang dimaksud adalah arah pengembangan dari jenjang yang rendah kejenjang yang lebih tinggi. Pengembangan ini disebut pengembangan vertical. Sebagai contoh pengembangan domain kognitif dari kemampuan mengetahui, memahami dan seterusnya sampai pada pengetahuan mengevaluasi.

b. Pengembangan yang tidak utuh.

Perkembangan yang tidak utuh terhdap dimensi hakikat manusia akan terjadi didalam proses pengembangan jika ada unsure dimensi hakikat manusia yang terabaikan untuk ditangai, misalnya kesosialan didominasi oleh pengembangan domain koghitif.

Pengembangan yang tidak utuh berakibat terbentuknya keperibadian yang pincang dan tidak mantap.

F. Pembawaan

Pembawaan adalah suatu konsep yang dipercayai/dikemukakan oleh orang-orang yang mempercayai adanya potensi dasar manusia yang akan berkembang sendiri atau berkembang dengan berinteraksi dengan lingkungan. Ada pula istilah lain yang biasa diidentikkan dengan pembawaan, yakni istilah keturunan dan bakat. Sebenarnya ketiga istilah tersebut tidaklah persis sama pengertiannya.

Pembawaan ialah seluruh kemungkinan atau kesanggupan (potensi) yang terdapat pada suatu individu dan yang selama masa perkembangan benar-benar dapat diwujudkan (direalisasikan).

Pembawaan tersebut berupa sifat, ciri, dan kesanggupan yang biasa bersifat fisik atau bisa juga yang bersifat psikis (kejiwaan). Warna rambut, bentuk mata, dan kemampuan berjalan adalah contoh sifat, ciri, dan kesanggupan yang bersifat fisik. Sedangkan sifat malas, lekas marah, dan kemampuan memahami sesuatu dengan cepat adalah sifat-sifat psikis yang mungkin berasal dari pembawaan. Pembawaan yang bermacam-macam itu tidak berdiri sendiri-sendiri, yang satu terlepas dari yang lain. Seluruh pembawaan yang terdapat dalam diri seseorang merupakan keseluruhan yang erat hubungannya satu sama lain; yang satu menentukan, mempengaruhi, menguatkan atau melemahkan yang lain. Manusia tidak dilahirkan dengan membawa sifat-sifat pembawaan yang masing-masing berdiri sendiri-sendiri, tetapi merupakan struktur pembawaan. Struktur pembawaan itu menentukan apakah yang mungkin terjadi pada seseorang.

Berbagai macam pembawaan dan relasinya :

1. Pembawaan dan lingkungan

Terdapat tiga aliran yang akan berpengaruh mengenai hal apakah pembawaan manusia itu tergantung dengan lingkungan atau faktor lain, antara lain

a. Aliran Nativsm

Aliran ini mengatakan bahwa perkembangan pribadi manusia sepenuhnya ditentukan oleh pembawaan. Faktor pembawaan atau hereditas merupakan faktor utama dlama pembentukan pribadi manusia. Anak lahir menurut teori ini sudah membawa potensi sendiri dengan pembawaannya yang akhirnya tergantung bagaimana merealisasikan pembawaan tersebut.

Dapat dilihat dengan jelas teori ini mengabaikan lingkungan sebagai faktor yang mempengaruhi pribadi manusia.

Pelopor dari aliran ini adalah Schopenhouer (1788-1860). Inti dari pendapatnya adalah bahwa faktor-faktor pembawaan yang telah dibawa sejak lahir tidak dapat diubah oleh pengaruh lingkungan termasuk pendidikan.

b. Aliran Empirism

Pendapat aliran ini berlawanan dengan aliran nativism, dan mengatakan bahwa dalam perkembangan anak menjadi dewasa itu sama sekali ditentukan oleh lingkungannya atau oleh pendidik dan pengalaman yang diterimanya sejak kecil. Manusia- manusia dapat dididik menjadi apa saja menurut lingkungan atau pendidik-pendidiknya. Aliran ini disebut tabularasa atau meja lilin. Tokoh aliran ini adalah John Lock dari Inggris.

c. Aliran Konvergensi

Aliran ini berasal dari ahli jiwa bangsa jerman, bernama Wiliiam Stern. Ia berpendapat bahwa pembawaan dan lingkungan kedua-duanya menentukan perkembangan manusia.

Ia berpendapat, bahwa di dalam perembangan individu itu baik dasar atau pembawaan maupun lingkungan memankan peranan penting. Bakat sebagai kemungkinan telah ada pada masing-masing individu; Akan tetapi bakat yang sudah tersedia itu perlu menemukan lingkungan yang sesuai supaya dapat berkembang. Misalnya : Tiap anak manusia yang normal mempunyai bakat untuk berdiri tegak di atas kedua kaki; Akan tetapi bakat ini tidak akan menjadi actual(menjadi kenyataan) jika sekiranya anak manusia itu tidak hidup dalam lingkungan masyarakat manusia.

2. Pembawaan dan keturunan

Pembawaan adalah seluruh kemungkinan yang terkandung dalam sel benih yang akan berkembang mencapai perwujudannya.

Keturunan adalah sifat-sifat yang ada pada seseorang yang di wariskan, (jadi ada persamaannya dengan orang yang mewariskannya) dengan melalui sel-sel kelamin dari generasi yang satu kepada generasi yang lain yangberikutnya.

Pembawaan itu tidaklah semuanya di peroleh karena keturunan, sebaliknya semua yang di peroleh karena keturunan dapat di katakana pembawaan.

3. Pembawaan dan bakat

Kata “bakat” dalam hal ini lebih dekat pengertiannya dengan kata aptitude yang berarti “kecakapan pembawaan” yaitu yang mengenai kesanggupan-kesanggupan (potensi-potensi) yang tertentu

4. Lingkungan (Environment)

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa kata lingkungan berarti “semua yang mempengaruhi pertumbuhan manusia dan hewan“.

Dalam konteks pendidikan, objek pengaruh tentu saja dibatasi hanya pada pertumbuhan manusia, tidak mencakup pertumbuhan hewan. Oleh karena itu, M. Ngalim Purwanto menyatakan bahwa yang dimaksud dengan lingkungan di dalam pendidikan ialah setiap pengaruh yang terpancar dari orang-orang lain, bintang, alam, kebudayaan, agama, adat-istiadat, iklim, dsb, terhadap diri manusia yang sedang berkembang

Menurut penulis, mungkin yang dimaksud Ngalim dalam definisi di atas adalah pengaruh lingkungan (bukan lingkungan).

Dengan asumsi ini maka lingkungan adalah segala sesuatu yang mempengaruhi perkembangan diri manusia, yakni orang-orang lain (individu atau masyarakat), binatang, alam, kebudayaan, agama, adat- istiadat, iklim, dsb. Sartain, seorang ahli psikolog Amerika, membagi lingkungan menjadi 3 bagian sebagai berikut:

a. Lingkungan alam atau luar (eksternal or physical environment), ialah segala sesuatu yang ada dalam dunia ini, selain manusia.

b. Lingkungan dalam (internal environment), ialah segala sesuatu yang telah masuk ke dalam diri kita, yang dapat mempengaruhi pertumbuhan fisik kita, misalnya makanan yang telah diserap pembuluh-pembuluh darah dalam tubuh.

c. Lingkungan sosial, ialah semua orang atau manusia lain yang mempengaruhi kita.

Mengenai jenis lingkungan yang ketiga, Ralph Linton (1962: 10), seorang anthropolog Amerika, mengistilahkannya sebagai lingkungan manusiawi. Menurutnya, lingkungan manusiawi itu mencakup masyarakatdan cara hidup yang khas dari masyarakat, yaitu kebudayaan. Baik Sartain maupun Linton sepakat bahwa lingkungan sosial atau lingkungan manusiawi adalah yang paling besar berpengaruh dalam perkembangan pribadi seseorang.

DAFTAR PUSTAKA

Hadi, Soedomo. 2003. PENDIDIKAN (SUATU PENGANTAR). Surakarta :Sebelas Maret University Press.

Djatun, Sutijan dan Sukirno. 2009. PENGANTAR ILMU PENDIDIKAN. Surakarta: Yuma Pustaka.

http://qym7882.blogspot.com/2009/04/hakikat-manusia-dan-pengembangannya

http://oddy32.wordpress.com/2009/12/16/pengembangan-dimensi-hakekat-manusia

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 1, 2011 in artikel

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: